Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf!!
(Tanggapan terhadap komentar Akhuna Suripan)
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A
.
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat, amiin.
Selanjutnya berikut saya akan menanggapi tulisan saudara kita Suripan, yang menurut saya banyak mengandung kebenaran, tetapi di waktu yang sama juga mengandung banyak kekeliruan atau kerancuan. Agar lebih jelas tanggapan saya, maka akan saya sebutkan terlebih dahulu penggalan ucapan saudara kita Suripan yang perlu ditanggapi, kemudian akan saya lanjutkan dengan komentar saya, yang dimulai dengan tanda // (dua garis miring), dan diakhiri dengan // (dua garis miring) juga.
Akhuna Suripan berkata:
Bismillahirrahmanirrakhim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saudaraku Seiman yang saya cintai karena Alloh. Puji syukur ke hadirat Alloh dan Salawat beserta Salam kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau yang mulia. Saya bukanlah orang yang alim di antara kalian dan bukan juga syaikh yang diagung-agungkan. Saya hanya seorang muslim biasa yang sangat prihatin melihat perkembangan umat Islam dewasa ini khususnya yang melibatkan saudara-saudara yang mengaku dirinya sebagai Salafiyun.
Maha Suci Alloh yang telah mengkaruniakan ilmuNya kepada saudara-saudara hingga saudara-saudara mempunyai kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran Addin ini kepada ummat. Bak ibarat pedang saudara-saudara mempunyai pedang dengan mata pedang yang sangat tajam, segala puji hanya milik Alloh yang berhak menerima pujian.
//
Alhamdulillah pada pembukaan tulisan ini, akhuna Suripan menunjukkan sikap jujur dan semoga ini keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sikap jujur yang membawanya berterus terang mengutarakan fenomena yang terjadi di medan dakwah, yaitu yang berkaitan dengan keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri ikhwah-ikhwah yang mendakwahkan dan berupaya meniti metode ulama salaf dalam beragama. Yaitu kelebihan berupa karunia dari Alloh berupa ilmu agama, sehingga mereka seperti yang diutarakan oleh akhuna Suripan memiliki kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Sikap jujur ini semoga senantiasa membawa keberkahan dalam kehidupan akhuna Suripan, dan menjadi modal besar baginya dalam mencari kebenaran dan mengamalkannya, Amin.
Selanjutnya untuk sedikit membuktikan kepada para pembaca bahwa karunia ini ilmu yang didasari oleh hujjah yang jelas nan shahih/otentik adalah karunia terbesar yang didapatkan oleh umat manusia setelah hidayah mengikrarkan syahadat La ilaha illAlloh Muhammad Rasulullah, saya akan sebutkan beberapa dalil yang membuktikan hal itu:
يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)
Ulama ahli tafsir menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah: Alloh akan meninggikan kedudukan orang-orang yang beriman sebagai balasan bagi amalan mereka, sebagaimana Alloh juga akan memberikan kelebihan bagi orang-orang yang berilmu dari kaum kalangan orang-orang yang beriman, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang mukmin lainnya beberapa derajat. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thabary 28/19).
Dan di antara dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah firman Alloh Ta’ala:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
Ibnu Katsir rohimahulloh ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya yang dapat mengetahui perbedaan antara kelompok ini (yang berilmu) dari kelompok itu (yang tidak berilmu) hanyalah orang-orang yang memiliki akal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/48).
Ini sebagian dari sekian banyak dalil yang membuktikan bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding orang yang tidak berilmu. Dan bukan hanya sekedar itu, pada ayat ke-2 Alloh mengisyaratkan bahwa yang dapat membedakan antara mereka hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat, sehingga dengan akalnya yang sehat ia dapat mengetahui bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding yang tidak berilmu. Saya rasa hal ini sangat jelas dan gamblang bagi orang-orang yang benar-benar berakal sehat, dan hatinya tidak ditutupi oleh dosa fanatis golongan, ashabiyah terhadap guru, atau noda-noda perbuatan dosa. Dan saya yakin, akhuna Suripan adalah termasuk salah seorang yang dapat mengetahui perbedaan antara keduanya, sehingga dengan jujur dan tanpa rasa malu akhuna Suripan mengakui akan kelebihan ilmu yang ada pada orang-orang yang mengakui dan berusaha meniti manhaj salaf, dibanding lainnya. Dan menurut akhuna, mereka yang mengakui meniti manhaj salaf (salafiyyin) bak telah memiliki senjata tajam, dan ini adalah modal besar untuk berjihad dan beramal. Dan ini adalah pengakuan bahwa bila salafiyyun berhasil mengarahkan senjata tajamnya ini dengan baik dan benar, niscaya akan berhasil mengalahkan musuh. Tentu dari pengakuan ini tersirat pengakuan lain bahwa, selain mereka (salafiyyun) belum atau tidak memiliki senjata yang tajam, sehingga mana mungkin mereka dapat mengalahkan musuh bila senjatanya tumpul atau bahkan tidak memiliki senjata sama sekali. Atau bahkan yang dimilikinya adalah racun yang ia anggap sebagai obat, sehingga bukannya sembuh dari penyakit yang ia derita, akan tetapi kebinasaanlah yang akan ia temui.
Untuk mengetahui kebenaran dari pengakuan tersirat dari akhuna Suripan, maka kita harus tahu bahwa sumber kekuatan dan sebab datangnya pertolongan Alloh kepada umat islam ialah iman dan amal shalih yang didasari oleh dalil dari Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan rekayasa sendiri-sendiri, oleh karena itu Alloh memerintahkan kita dengan firmannya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Alloh, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imran: 103)
Sebagaimana Alloh juga memerintahkan agar tidak bercerai berai dan saling berselisih, karena perselisihan itu adalah sumber petaka, di dunia dan akhirat, dan sebab terjadinya kekalahan ketika menghadapi musuh. Alloh ta’ala berfirman:
وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُُ وَتَسْوَدُّ وُجُوهُُ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali Imran: 104-105)
Dan bila kita bertanya: Apakah tolok ukur persatuan dan kesatuan menurut Alloh dan Rasul-Nya?
Untuk mengetahui jawaban pertanyaan cerdas ini, maka marilah kita merenungkan firman Alloh berikut:
وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan ta’atlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.”(QS. Al Anfaal: 46)
Amatilah, pada ayat ini Alloh ta’ala menjadikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perbedaan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan dan hilangnya kekuatan umat islam.
Dan sudah barang tentu, kita semua sadar bahwa ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya hanyalah akan terealisasi, bila kita benar-benar mengamalkan Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh). Dan sudah barang tentu ini semua tidak akan dapat terealisasi tanpa adanya ilmu.
Wasiat dari Alloh ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut:
لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا
“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/ runtuh.” (HSR. Muslim)
Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Alloh dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syariat yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Saya harap akhuna Suripan sudi menjawab pertanyaan saya berikut: Apakah yang dapat dipetik oleh umat islam sekarang ini dari kemajuan Pakistan & Iran dalam hal persenjataan nuklir yang telah mereka miliki? Bukankah antum tahu bahwa banyak dari umat islam yang telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai IPTEK, memiliki kekayaan yang melimpah ruah, akan tetapi apa yang dapat dirasakan oleh umat islam dari berbagai kemajuan dan kekayaan mereka?
Ini semua membuktikan kebenaran sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن. فقال قائل يا رسول الله وما الوهن: قال حب الدنيا وكراهية الموت. رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني
“Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti (mengeroyok) kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap hidangan mereka. Maka ada salah seorang sahabat yang berkata: Apakah hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah) bak buih air bah, dan sungguh-sungguh Alloh akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan terhadap kalian, dan Alloh benar-benar akan mencampakkan ke dalam hati kalian rasa wahan (lemah). Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn? Beliau menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian.” (HRS. Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah sumber permasalahan dan inti problematika umat pada zaman ini. Oleh karena itu marilah kita semua kembali kepada ajaran agama, dengan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dan berupaya menghidupkannya dalam diri kita, keluarga, masyarakat kita. Tentunya semua ini harus dengan metode yang bijak, penuh dengan hikmah, lembut dan dengan tidak terburu-buru ingin segera memetik hasil dalam sekejap mata, bak membalikkan telapak tangan. Karena bila kita terburu-buru, niscaya yang akan terjadi adalah kekecewaan dan kegagalan yang pasti, seperti dalam pepatah:
من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه
“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”
Dan ini pula yang sekarang kita lihat di negeri kita: Orang-orang yang ingin menegakkan syariat islam dengan cara pengeboman, mereka hanya mendatangkan petaka dan permasalahan bagi umat, setiap yang berusaha menjalankan syariat agama islam sekarang malah dicurigai sebagai anggota teroris, dst.
Begitu juga kelompok lainnya, yang menempuh jalan demokrasi, dan membentuk partai dan hanyut dalam kehidupan berpolitik, semua ini dengan alasan ingin segera mengubah sistem dan menerapkan syariat islam sesegera mungkin. Akan tetapi apa yang terjadi, mereka malah ikut andil dalam mengesahkan berbagai undang-undang yang menyelisihi syariat, dan ikut melakukan berbagai amalan yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Dan yang lebih ironis, seruan untuk menerapkan syariat sekarang ini telah hilang dan sirna 100 % dari pembicaraan mereka, setelah kebagian jabatan dan mendapatkan jatah kursi dst. La haula wala quwwata illa billah.
Hendaknya kita sadar dan mengamati, dan janganlah kita menutup mata dari fenomena yang ada di lapangan, hanya sekedar terbuai oleh cita-cita dan slogan-slogan kosong mlompong, bagaikan mimpi di siang bolong.
Hendaknya kisah yang disebutkan oleh ulama’ ahli sirah Nabi berikut ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua:
“Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negosiasi antara kedua belah pihak, di antara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:
يا ابن أخي إن كنت إنما تريد بما جئت به من هذا الأمر مالا جمعنا لك من أموالنا حتى تكون أكثرنا مالا وإن كنت تريد به شرفا سودناك علينا حتى لا نقطع أمرا دونك وإن كنت تريد به ملكا ملكناك علينا وإن كان هذا الذي يأتيك رئيا تراه لا تستيطع رده عن نفسك طلبنا لك رآق وبذلنا فيه أموالنا حتى نبرئك منه
“Wahai keponakanku, bila yang engkau kehendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”. Sirah Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah.
Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang berakidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlak islamiah. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat, yang intinya menyebutkan maksud diturunkannya Al Quran, yaitu guna mendakwahi manusia agar beribadah hanya kepada Alloh Ta’ala.
Inilah metode penegakan khilafah islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu membina generasi islam yang benar-benar islam dan bersih dari berbagai noda kesyirikan dan bid’ah/penyelewengan dalam hal ibadah atau lainnya.
//
Namun akhir-akhir ini saya jadi bertanya-tanya atas sikap saudara-saudara Salafiyin yang menggunakan kelihaian hujjahnya, dengan mengatasnamakan menjaga kemurnian aqidah mengarahkan mata pedangnya kesesama muslim, dan hal ini sungguh dilakukan dengan tanpa rasa sungkan dan malu, bahkan seakan mereka tidak berfikir bahwa disamping kanan kiri banyak kaum kuffar yang melihatnya.hal ini tidak dapat dipungkiri karena kita jumpai di internet di website-website Salafy sangat banyak kita jumpai hal-hal tersebut sebagai contoh seperti yang turut saya lampirkan diatas. Website Salafy tumbuh bak jamur dimusim hujan, sebenarnya itu hal sangat baik sebagai wasilah da’wah, namun bila kita lihat, kita baca dan kita amat-amati secara mendalam disana akan kita dapati bahwa mata pedang kaum salafy hari ini tidak diarahkan kepada musuh-musuh Alloh namun sebaliknya malah diarahkan kepada kaum muslimin yang lain khususnya gerakan-gerakan Islam, dan tidak perlu saya sebutkan nama gerakan tersebut disini karena semua orang tahu hal itu. Saudaraku salafiyin yang saya cintai karena Alloh, dari tulisan-tulisan yang saya dapat di website Salafy dan dari diskusi serta dari bertanya kepada orang-orang salafy bahwa saudara-saudara punya cita-cita besar yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah, bahkan politikpun diharamkan sebelum tegaknya Khilafah Islamiah.saudara-saudaraku ini adalah pekerjaan besar dan bukan pekerjaan sederhana, itu perlu persiapan dengan melibatkan seluruh komponen ummat Islam bukan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin, tetapi ummat Islam, mengapa? Karena ummat Islamlah yang akan menjadi subjek (pelaku) dari kheKhilafahan tersebut, sedang diluar itu mereka harus tunduk kalau memang mereka sudah ummat Islam tundukkan, nah berangkat dari sini izinkan saya mengkritisi apa yang sudah saudara-saudara lakukan saat ini:
//
Saya rasa, pada penggalan ucapan akhuna Suripan diatas kita dapat pahami bahwa akhuna Suripan juga menunjukkan sikap jujur yang patut dipuji, yaitu akhuna mengakui bahwa di tengah-tengah umat islam terjadi perbedaan atau dengan lebih tegas nan lugas: terjadi perpecahan. Perpecahan yang oleh akhuna disebut dengan kata-kata lembut, yaitu “gerakan-gerakan Islam” Hal ini adalah pengakuan yang patut diacungi jempol, sebab –Insya Alloh- pengakuan ini akan membimbing akhuna kepada kebenaran.
Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau mengabarkan fenomena ini, bukan dalam rangka berbangga-banga dengan keanekaragaman alur dan manhaj yang akan muncul di tengah-tengah umatnya, akan tetapi beliau mengabarkannya dalam rangka memperingatkan umatnya dari keanekaragaman tersebut. Cermatilah hadits berikut:
“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kami pun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi?” (HRS. Muttafaqun ‘Alaih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahullah- berkata: “Beliau mengabarkan bahwa akan ada dari umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah orang-orang non arab”. (Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6)
Pada hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dari sahabat Abu Hurairah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah fenomena yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, umat Islam benar-benar telah terpecah belah menjadi berbagai kelompok, dan setiap kelompok memiliki metode dan manhaj tersendiri. Nah, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan fenomena ini bukan dalam rangka menceritakan kenikmatan yang akan didapatkan oleh umatnya, akan tetapi dalam rangka memperingatkan mereka dari petakan ini. Oleh karena itu dalam hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar senantiasa meniti manhaj yang beliau ajarkan dan meninggalkan berbagai manhaj dan golongan/gerakan lainnya yang tidak menerapkan manhaj beliau . Simaklah wasiat beliau ini:
الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك
“Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka. Aku pun bertanya: Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/kholifah)? Beliau pun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu.” (HRS. Al Bukhory dan Muslim)
Pendek kata, upaya menikam dan meruntuhkan berbagai gerakan dan manhaj yang tidak sesuai dengan manhaj Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah metode berdakwah dan beragama yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diwasiatkan oleh beliau kepada umatnya. Dan sebagai salah satu buktinya amatilah hadits berikut:
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini akan lahir suatu kaum yang mereka membaca Al Quran akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati tenggorokannya (mereka tidak memahami apa yang mereka baca), mereka membunuhi kaum muslimin, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka akan keluar dari Islam, layaknya anak panah yang keluar dan menembus binatang buruan. Seandainya aku menemui mereka, niscaya akan aku membunuh mereka hingga habis, layaknya kaum ‘Ad dibinasakan hingga habis.” (Muttafaqun ‘alaih)
Ya Akhi Suripan, untuk sedikit membuktikan kepada antum, bahwa sebenarnya gerakan-gerakan islam yang tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan beragama, maka hendaknya antum baca sejarah berikut ini:
Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan penebaran agama Islam, mulailah musuh-musuh Islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong, guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat Islam. Dan ternyata mereka berhasil menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Usman bin Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. (Untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: Al Bidayah Wa An Nihayah, oleh Ibnu Katsir, dll.)
Bukankah runtuhnya khilafah Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah, demi memperebutkan kekuasaan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang tertumpahkan darahnya akibat pemberontakan tersebut?!
Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H akibat pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy? Pengkhianatan ini ia lakukan tatkala ia menjabat sebagai Wazir (perdana menteri) pada zaman Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya. (Baca kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13)
Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu kelompok yang mengaku sebagai umat Islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota Mekkah, dan membantai beribu-ribu jamaah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur zamzam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian mencongkelnya dan dibawa pulang ke negeri mereka Hajer di daerah Bahrain. (Untuk lebih lengkap, silakan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171)
Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok fathimiyyah, yang merupakan salah satu sempalan dari sekte Syi’ah, dan mereka pernah menguasai negri Mesir selama satu abad lamanya. (Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh, silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah)
Oleh karena itu dalam memperjuangkan Islam, hendaknya kita tidak melupakah sejarah kita sendiri, dan hendaknya kita menggali pelajaran dan hikmah dari sejarah kita sendiri, sehingga kita tidak mengulang kegagalan, dan berhasil mengembalikan kejayaan umat yang telah hilang. Akhuna Suripan camkanlah perkataan Imam Malik berikut:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها
“Tidaklah mungkin akan dapat membaguskan urusan generasi akhir umat ini kecuali hal yang telah membaguskan urusan generasi pendahulu mereka.”
Dan saya rasa akhuna Suripan juga tahu bahwa Islam mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahwasanya prinsip ini memiliki tiga tahapan, yaitu ingkar dengan hati, dengan membenci amalan mungkar tersebut, kedua: ingkar dengan lisan: yaitu dengan menjelaskan bahwa amalan itu mungkar dan haram, dan yang ketiga: ingkar dengan kekuatan:
من رأى من منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.”(HR. Muslim)
Dan apa yang antum sesali dari manhaj salaf, yaitu membongkar kesesatan dan kesalahan pelaku kesesatan dan kesalahan, dan memperingatkan umat masyarakat dari perbuatan tersebut adalah bagian dari ingkar al mungkar.
Sudah barang tentu syariat amar ma’ruf nahi mungkar ini dan wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya di saat menghadapi perpecahan yang telah saya nukilkan di atas, sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang dikenal dalam bahasa Arab:
نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا
“Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita”.
Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berpikir saja, niscaya kita akan terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikarenakan metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekuensinya kita harus toleransi kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariyah, ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan lain-lain memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin. Bahkan seluruh umat manusia pasti memiliki persamaan dengan kita, minimal persamaan dalam hal menentang praktek kanibalisme, yaitu memakan daging manusia. Kalau demikian lantas akan ke mana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita, dan negara islam model apakah yang hendak didirikan?!
//
–Bersambung–